Kamis, 19 Nopember 2009
SURABAYA- Tren penguatan harga emas akan terus terjadi hingga akhir tahun akibat belum stabilnya kondisi ekonomi dunia. Meski demikian posisi 1.100-1.200 dollar AS per troy ounce diprediksi menjadi titik klimaks. Pasalnya, kenaikan sudah sangat tinggi yang membuka peluang profit taking.
“Trennya memang akan menguat hingga akhir tahun. Tapi akan beratahan di kisaran 1.100-1.200, naik turun sesuai permintaan pasar. Kalau ke posisi 1.500 dollar belum mungkin, itu terlalu drastis dan malah akan merugikan bila suatu saat ada koreksi,” jelas Eksekutif Direktur Asosiasi Pedagang & Produsen Emas Permata Indonesia (Appepi), Iskandar Husein, saat dihubungi, Kamis (5/11).
Semenatara harga emas dalam perdagangan di London, Rabu (4/11) melampaui puncak rekornya dekati 1.100 dollar AS atau tepatnya 1.093,10 dollar. Ini terjadi setelah penjualan besar-besaran emas dari Dana Moneter Internasional (IMF) ke India.
Sebelumnya, Selasa (3/11) harga emas telah mencapai rekor tingginya 1.087,80 karena IMF mengatakan pihaknya telah menjual 200 ton emas ke bank sentral India yang berlangsung selama dua pekan bulan lalu senilai 6,7 miliar dolar untuk meningkatkan keuangannya.
Sementara pada Kamis (5/11) pagi, harga emas menurun sedikit hingga pada level 1.091 dolar di perdagangan London. Dijelaskannya, kenaikan harga emas lebih didorong karena para fund manager internasional mencari tempat aman untuk investasinya saat pasar modal hingga sektor riil tidak stabil. Selain emas, mereka juga lari ke minyak. Dua komogiti ini dianggap sebagai save heaven meski tidak se-likuid saham di pasar modal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar