IMF kemarin baru saja mengumumkan penjualan cadangan emasnya sebesar 200 ton ke Bank Sentral India dan meraup penjualan 6,7 miliar dollar AS.
Bart Melek dari BMO Capital Markets mengatakan, penjualan emas IMF kepada India itu memberikan keyakinan pada teori bahwa ada pembeli resmi menunggu sejumlah cadangan emas yang tersedia.
"Pertanyaannya sekarang adalah, siapa pembeli sisa emas IMF?" ujar Melek.
"Kami menduga pembelinya adalah China dan negara Asia lainnya, Rusia atau bahkan India lagi karena mereka memegang emas yang relatif sedikit dibandingkan dengan cadangan devisanya yang besar dan ingin mendiversifikasinya dari dolar AS," tambahnya.
Investasi Emas
CEO Managing Partner Vibiznews Alfred Pakasi mengatakan, investasi emas memiliki beberapa keuntungan. Pertama, emas memiliki likuiditas yang sangat mudah. Banyak toko yang menjual dan membeli emas di mana-mana.
"Kini, emas bisa dianggap sebagai mata uang. Semua mata uang di dunia mempunyai emas sebagai back up," ujar Alfred.
Kedua, harga emas akan selalu naik sehingga bisa menjadi pilihan saat krisis. Bahkan saat perang, inflasi tinggi, dan gejolak finansial.
Selain itu, terdapat aspek fundamental dalam emas. Alfred menambahkan emas memiliki 2 cara keuntungan, baik saat harga emas sedang naik maupun saat turun. Emas juga memiliki manfaat jangka panjang dan jangka pendek.
Saat harga naik, masyarakat bisa menjual emasnya tetapi saat harga emas turun, masyarakat bisa kembali membeli emas. Hal ini merupakan manfaat jangka pendek investasi emas.
Namun, jika masyarakat ingin investasi emas secara jangka panjang, emas bisa dibeli saat harga turun kemudian disimpan saja sampai berpuluh-puluh tahun. Hal ini tetap mendatangkan keuntungan karena harga emas akan selalu naik.
"Manfaatkan 2 ways opportunity, untuk long term kita buy and hold, untuk short term kita jual saat koreksi. Jadi, selalu untung," tegas Alfred.
Saat ini harga emas sedang tinggi karena harga per troy ounce emas mencapai angka di atas Rp 1000. Fenomena harga emas di Indonesia sempat mencapai harga paling tinggi pada Maret 2008 yang mencapai level Rp 311.300 per gram. Sumber: Surabaya Post,4 nop.2009.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar