Permata
Rabu, 23 September 2009 | 15:51 WIB
DENPASAR, KOMPAS.com — Perajin Bali tampaknya lebih senang menggunakan batu permata produksi dalam negeri dalam memenuhi permintaan perhiasan perak dan emas yang dipadukan dengan permata, yang datang dari konsumen mancanegara.
Batu permata produksi dalam negeri yang dimanfaatkan untuk kelengkapan perhiasan logam oleh perajin Bali itu, antara lain, didatangkan dari Kalimantan, Jawa, dan Sumatera.
"Kami sudah berkurang jauh dalam mengimpor batu permata atau logam mulia sebagai bahan baku kerajinan untuk memenuhi permintaan konsumen mancanegara, terutama yang datang dari Amerika Serikat (AS)," kata Made Asmara SH, pengusaha dan eksportir aneka kerajinan Bali, ketika ditemui di Desa Celuk, Kabupaten Gianyar, Rabu (23/9).
Ia bersama pengusaha kerajinan perhiasan lain, sebelumnya tercatat mendatangkan batu permata dari Thailand, China, India, dan negara produsen lainnya. Namun, belakangan ini batu permata dari Indonesia juga mulai disenangi pembeli mancanegara.
Batu permata produksi daerah-daerah di Nusantara juga banyak yang bertuah, dan informasi itu dipercayai calon konsumen. Sejalan dengan itu, cukup banyak batu permata dari daerah lain di Nusantara yang kini didatangkan ke Bali, sedangkan mutunya tidak kalah dengan yang diimpor dari negara lain.
Akibat resesi ekonomi global yang melanda negara konsumen perhiasan, seperti AS dan negara-negara di kawasan Eropa, maka pesanan yang diterima pengusaha kerajinan perak yang umumnya ada di Desa Celuk, Gianyar, belakangan ini agak berkurang, tepatnya berfluktuasi.
Syukur-syukur kini ada wisatawan dalam negeri, terutama asal Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya yang menyenangi perhiasan dari perak berupa cincin, gelang, dan kalung. "Walaupun dalam jumlah kecil, namun kondisi ini sangat menolong perajin setelah ekspor mulai berkurang," kata Made.
Wisatawan dalam negeri dalam liburan Lebaran membanjiri pusat-pusat kerajinan di Sukawati, Ubud, dan sepanjang jalan raya Desa Celuk. Banyak di antara mereka yang berbelanja barang oleh-oleh sebagai koleksi diri sendiri ataupun untuk diberikan kepada teman dan kerabatnya.
Krisis ekonomi global yang mulai dirasakan pengusaha Bali menyebabkan realisasi ekspor impor mutiara, batu permata, logam mulia, dan perhiasan imitasi lainnya berfluktuasi, dan jumlah impor relatif sedikit jika dibandingkan ekspornya, ungkap laporan Bank Indonesia Denpasar.
Sesuai laporan tersebut, impor mutiara, batu permata, logam mulia, dan perhiasan imitasi lainnya selama Januari-Juni 2009 tercatat bernilai 7,5 juta dollar AS, sedangkan realisasi ekspor mata dagangan sejenis selama periode yang sama bernilai 26,7 juta dollar AS.
Hal ini artinya, perdagangan luar negeri khusus aneka barang perhiasan Bali mengalami surplus 19,2 juta dollar AS selama enam bulan pertama 2009.
Batu permata produksi dalam negeri yang dimanfaatkan untuk kelengkapan perhiasan logam oleh perajin Bali itu, antara lain, didatangkan dari Kalimantan, Jawa, dan Sumatera.
"Kami sudah berkurang jauh dalam mengimpor batu permata atau logam mulia sebagai bahan baku kerajinan untuk memenuhi permintaan konsumen mancanegara, terutama yang datang dari Amerika Serikat (AS)," kata Made Asmara SH, pengusaha dan eksportir aneka kerajinan Bali, ketika ditemui di Desa Celuk, Kabupaten Gianyar, Rabu (23/9).
Ia bersama pengusaha kerajinan perhiasan lain, sebelumnya tercatat mendatangkan batu permata dari Thailand, China, India, dan negara produsen lainnya. Namun, belakangan ini batu permata dari Indonesia juga mulai disenangi pembeli mancanegara.
Batu permata produksi daerah-daerah di Nusantara juga banyak yang bertuah, dan informasi itu dipercayai calon konsumen. Sejalan dengan itu, cukup banyak batu permata dari daerah lain di Nusantara yang kini didatangkan ke Bali, sedangkan mutunya tidak kalah dengan yang diimpor dari negara lain.
Akibat resesi ekonomi global yang melanda negara konsumen perhiasan, seperti AS dan negara-negara di kawasan Eropa, maka pesanan yang diterima pengusaha kerajinan perak yang umumnya ada di Desa Celuk, Gianyar, belakangan ini agak berkurang, tepatnya berfluktuasi.
Syukur-syukur kini ada wisatawan dalam negeri, terutama asal Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya yang menyenangi perhiasan dari perak berupa cincin, gelang, dan kalung. "Walaupun dalam jumlah kecil, namun kondisi ini sangat menolong perajin setelah ekspor mulai berkurang," kata Made.
Wisatawan dalam negeri dalam liburan Lebaran membanjiri pusat-pusat kerajinan di Sukawati, Ubud, dan sepanjang jalan raya Desa Celuk. Banyak di antara mereka yang berbelanja barang oleh-oleh sebagai koleksi diri sendiri ataupun untuk diberikan kepada teman dan kerabatnya.
Krisis ekonomi global yang mulai dirasakan pengusaha Bali menyebabkan realisasi ekspor impor mutiara, batu permata, logam mulia, dan perhiasan imitasi lainnya berfluktuasi, dan jumlah impor relatif sedikit jika dibandingkan ekspornya, ungkap laporan Bank Indonesia Denpasar.
Sesuai laporan tersebut, impor mutiara, batu permata, logam mulia, dan perhiasan imitasi lainnya selama Januari-Juni 2009 tercatat bernilai 7,5 juta dollar AS, sedangkan realisasi ekspor mata dagangan sejenis selama periode yang sama bernilai 26,7 juta dollar AS.
Hal ini artinya, perdagangan luar negeri khusus aneka barang perhiasan Bali mengalami surplus 19,2 juta dollar AS selama enam bulan pertama 2009.
hello, perkenalkan warung bali, sebagai afiliasi penjualan silakan berkunjung dan pilih katagori produk anda, banyak sponsor yang akan mempromosikan produk anda, klik link http://warungbali.blog.friendster.com/ terima kasih
BalasHapus